• Sabtu, 2 Juli 2022

Ngeri, Ada Narkoba Jenis Baru Efeknya 150 Kali Lebih Kuat Dari Morfin

- Kamis, 16 Desember 2021 | 20:11 WIB
ilustrasi narkoba (Pixabay.com/RenoBeranger)
ilustrasi narkoba (Pixabay.com/RenoBeranger)

TINTAPUTIH - Tim Terpadu Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GNPN) Kota Bandung menggelar diskusi untuk merumuskan strategi memerangi narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) yang jenis barunya terus bermunculan.

Untuk membahas strategi preventif hingga reaktif terhadap bahaya narkoba melibatkan sejumlah elemen mulai dari pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bandung, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bandung, Kepolisian, akademisi dan ahli farmasi.

"Prinsipnya sesuai Permendagri 12 tahun 2019 bahwa di Kota Bandung sudah ada Perda Nomor 5 tahun 2021 tentang keterlibatan pemerintah bekerja sama dengan seluruh stakeholder masyarakat untuk menangani bahaya narkoba," ucap Bakesbangpol Kota Bandung Bambang Sukardi di Balai Kota Bandung, Kamis (16/12/2021) seperti dikutip dalam rilis yang diterima tintaputih.

Baca Juga: Anak SD di Kota Bandung Sudah Bisa Divaksin Corona, Begini Cara Dapatnya

Pemkot Bandung, kata Bambang, menggunakan pendekatan kemasyarakatan melalui program Kampung Tangguh Bersih Narkoba (Bersinar). Namun dalam rangka pencegahan bahaya narkoba tetap dipelukan formulasi tambahan agar menjangkau ke level lingkungan keluarga.

"Pak Wali Kota sudah mengeluarkan surat keputusan ada 23 Kampung Bersinar, mudah-mudahan nanti bisa ada di 151 kelurahan, tahun kemarin baru 8 kelurahan. Ini menandakan keseriusan tim P4GNPN Kota Bandung dan jajaran lainnya," ujarnya.

Sementara itu Kepala BNN Kota Bandung Deni Yus Danial menuturkan, penguatan strategi demand reduction (pengurangan permintaan) dan supply reduction (pengurangan pasokan) diperlukan untuk mengantisipasi narkoba jenis baru yang kini tengah marak di seluruh dunia.

"Mengantisipasi perkembangan narkotika jenis baru yang saat ini viral. Di sejumlah kota besar di dunia, opiat sintetis telah merupakan epidemik di negaranya," ucap Deni.

Menurutnya upaya yang lebih komprehensif bukan hanya penetrasi difokuskan pada masyarakat. Namun pembaharuan wawasan di internal tim terpadu P4GNPN juga harus menjadi perhatian agar tak ketinggalan oleh para produsen narkoba sintetis.

"Mengantisipasi dengan pengetahuan zat. Kami dari P4GNPN harus mengetahui bagaimana zat adiktif yang berkembang. Untuk itu kita hadirkan dari farmasi ITB agar paham jenis tersebut untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran," katanya.

Di tempat yang sama Dosen Sekolah Farmasi ITB Dr. rer. apt. Rahmana Kartasasmita mengungkapkan, saat ini tengah beredar di masyarakat narkotika sintetik opioid dari golongan fentanyl yang efeknya 150 kali lipat dari morfin.

Rahmana menyebutkan dari regulasi terbaru dalam Permenkes Nomor 4 Tahun 2021 sudah ada tambahan 35 zat turunan fentanyl yang masuk dalam kategori narkoba golongan 1.

"Golongan satu ini maknanya adalah narkotika yang tidak boleh digunakan pengobatan. Memiliki efek ketergantungan sangat kuat dan membahayakan, setara dengan canabis," kata Rahmana.

Saat ini, kata Rahma, hanya ada 4 senyawa turunan fentanyl yang diperbolehkan untuk keperluan medis. Namun dengan catatan harus melalui syarat yang cukup ketat yakni melalui resep dokter dan ditunjang indikasi yang tepat.

"Di negara lain penyalahgunaannya marak, di Amerika sudah ada videonya itu karena memang efeknya lebih kuat 100-150 kali dari morfin sedangkan harganya lebih murah karena mudah didapatkan," katanya.

Ia mengingatkan kemunculan narkoba jenis baru harus selalu diantisipasi. Sebagai peneliti ia berupaya terus menginformasikan segala bentuk data dan fakta mengenai jenis narkoba terbaru.

"Perlu kerja sama dan koordinasi dengan semua pihak. Jadi apa yang kita lakukan hari ini sebagai bentuk kepedulian," katanya.

Kajari Kota Bandung Iwa Suwia Pribawa yang hadir dalam acara tersebut berharap setiap informasi hasil penelitian terkait jenis narkoba terbaru bisa ditindaklanjuti dan segera dibakukan ke dalam sebuah regulasi. Sehingga penegakan hukum semakin cepat dan tepat karena sudah ada pasal yang diberlakukan.

"Ada tren peningkatan untuk penegakan hukum kasus yang telah diajukan kepada kami oleh penyidik baik dari kepolisan atau BNN," kata Iwa.

"Kami konsisten memberikan hukuman sesuai aturan yang ada. Kami telah menuntut hukuman mati terhadap pengedar tembakau gorila. Alhamdulillah ada yang dikabulkan oleh hakim baik untuk hukuman mati, seumur hidup dan 20 tahun," pungkas Iwa.***

Editor: Faizal Amiruddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

100 Hektar Sawah di Ciganjeng Terendam Banjir

Selasa, 28 Juni 2022 | 22:17 WIB

Akibat PMK Merebak, Sapi di Peternakan Mogok Makan

Selasa, 28 Juni 2022 | 21:22 WIB

24 Calon Jemaah Haji Pangandaran Gagal Berangkat

Minggu, 26 Juni 2022 | 09:14 WIB

Ratusan Warga Bantarkalong Tasikmalaya Keracunan

Minggu, 26 Juni 2022 | 08:26 WIB
X