TINTA PUTIH - Tingkat konsumsi rokok warga Indonesia saat ini dalam kondisi yang emergency (darurat). Level darurat tersebut dapat dilihat dari laporan hasil riset survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) dan data dari sumber lain.
Survei dilakukan Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization (WHO) Indonesia dalam rangka Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei 2022 untuk memotret perilaku dan dinamika konsumsi rokok di seluruh dunia.
Hasil survei tentang permasalahan konsumsi rokok tersebut diungkap dalam jumpa pers melalui aplikasi Zoom yang digelar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) beserta jaringannya, Jumat 3 Juni 2022.
Baca Juga: Ridwan Kamil Tiba di Bandung, RK Tetap Senyum dan Tegar
Hadir sebagai narasumber yaitu Ketua Pengurus Harian Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Hasbullah Thabrany, serta dari kalangan CSO pengendalian tembakau di Indonesia.
Hasil GATS 2021 sangat mencengangkan bahkan mengkhawatirkan, khususnya bagi masa depan anak anak, remaja dan generasi muda. Menurut Tulus, laporan GATS membuktikan jumlah perokok selama 10 tahun terakhir 2011-2021 meningkat 8,8 juta perokok dewasa.
"Sehingga, saat ini terdapat 69,1 juta dari semula 60,3 juta perokok. Artinya 25 persen masyarakat Indonesia adalah perokok," ujar Tulus.
Baca Juga: Setelah Timnas Indonesia U 19 Libas Ghana U 20, Garuda Nusantara Kian Pede Hadapi Meksiko U 20
Hal lainnya, data BPS 2021 juga membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjkan uangnya untuk membeli rokok. Jauh di atas produk padi padian, sayur sayuran, ikan/udang, telur susu, daging dan lainnya.
Sehingga konsumsi rokok mengalahkan konsumsi bahan pangan yang bergizi.
"Menurut hasil GATS juga membuktikan terjadi lompatan iklan dan promosi rokok di media internet. Jika pada 2011 iklan rokok di internet hanya 1,9 persen saja, maka pada 2021 iklan rokok di internet menjadi 21,4 persen," ujar Tulus.
Baca Juga: Tes Fisik dan Kesehatan Penting bagi Atlet Sebelum Berlaga di Porprov Jabar
Ditambahkan Tulus, fenomena tingginya jumlah perokok, sudah pasti diikuti oleh melambungnya fenomena penyakit tidak menular. Hasil Riskesdas 2018 membuktikan bahwa terjadi peningkatan prevalensi penyakit tidak menular yaitu prevalensi penyakit kanker menjadi 1,8 persen
(pada 2013 hanya 1,4%), prevalensi penyakit stroke 10,9 persen (pada 2013 hanya 7 persen), prevalensi ginjal kronis 3,8 persen (pada 2013 hanya 2 persen), dan penyakit diabetes melitus 8,5 persen (pada 2013 hanya 6,9%).
Artikel Terkait
Peringatan HTTS di Kota Tasikmalaya, Puntung Rokok Jadi Sampah Berbahaya
Karena Sosok Amien Rais, "Sang Fenomenal" Makin Jatuh Hati pada Partai Ummat
Kondisi Pelatih Persib Robert Alberts Setelah Sempat Dibawa ke Rumah Sakit di Batam, Masih Belum Dampingi Tim
Didukung 3 Kepala Daerah, Istri Bupati Pangandaran Hj Ida Nurlaela Pede Menang Nyaleg DPR RI 2024
Persib Bandung Pesta Gol 10-0 atas Renggli Batam Selection, David Cetak Hattrick, Ciro Brace