• Minggu, 28 November 2021

Perceraian dan Pernikahan Dini di Kota Tasikmalaya Tinggi

- Jumat, 5 November 2021 | 19:44 WIB
angka perceraian kota tasikmalaya
angka perceraian kota tasikmalaya

Tasikmalaya - Angka perceraian dan pernikahan dini di Kota Tasikmalaya cukup tinggi sehingga menjadi perhatian Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya.

Data yang terhimpun di Pengadilan Agama, jumlah perceraian mencapai 230 per bulan. Sementara yang melakukan pernikahan dini mencapai 60 pasang.

Fakta itu menjadi pertanda bahwa implementasi Perda Ketahanan Keluarga belum berjalan optimal dalam membentengi keluarga yang kokoh sesuai harapan.

Ketua Komisi VI Dede Muharam dan anggotanya H. Badruzaman memandang bahwa fakta itu harus jadi bahan evaluasi bersama.

"Fakta itu tentu membuat kami sangat prihatin dan harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah harus intens menggandeng keberadaan lembaga pendidikan, termasuk pesantren dalam memperkokoh ketahanan keluarga," ujar Dede saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua  Pengadilan Agama Tasikmalaya dan jajarannya di Ruang Rapat II DPRD Kota Tasikmalaya, belum lama ini.

Dede juga mengapresiasi itikad Ketua Pengadilan Agama yang mau membangun sinergi dengan DPRD.

Bagaimanapun, informasi yang disampaikan mulai tingkat perceraian, pernikahan dini, polemik harta waris dan lainnya akan jadi bahan kajian.

"Meski pengadilan agama instansi vertikal, tetapi yang mereka urus adalah masyarakat Kota Tasikmalaya. Jadi itikad mereka bersilaturahmi serta sharing informasi sangat kami apresiasi dan harus terus berjalan," ujar Dede.

Ketua Pengadilan Agama Tasikmalaya, H. Isep Rijal Muharom menjelaskan  tingginya angka perceraian itu masih didominasi faktor ekonomi, adanya orang ke tiga dan faktor lingkungan.

Kursus Pranikah Solusi Alternatif

-
Sekretaris Komisi IV Gilman Mawardi.*

Sementara itu Sekretaris Komisi IV Gilman Mawardi menambahkan bahwa tingginya kasus perceraian harus diupayakan agar bisa diminimalisasi.

Bahkan dia menduga angka itu tidak menutup kemungkinan jauh lebih tinggi dari fakta rill di lapangan. Layaknya fenomena gunung es.

"Boleh jadi kan karena biaya perceraian tinggi, ada pasangan yang bubar begitu saja. Dengan begitu, anak tentu jadi korban dan status istrinya digantung," ujar dia.

Kondisi itu pun bisa menghambat mimpi untuk merealisasikan generasi Emas di tahun 2050 mendatang. "Kalau banyak keluarga terlantar akibat perceraian, mimpi mencapai generasi emas jadi berat," ujar dia.

Makanya, dia berharap semuap pihak mulai Pemkot, Kemenag dan stakeholder lain berupaya meminimalisasinya. Upaya bisa dilakukan dengan sosialisasi tentang perkawinan atau digelar kursus pranikah.

Kursus pra nikah ujar dia bisa merupakan solusi dan proses pendidikan yang memiliki nilai strategis dalam rangka  mewujudkan keluarga bahagia dan kekal.

Melalui kursus pra nikah diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kehidupan berumah tangga serta mengurangi angka kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian.*

Editor: A Team

Tags

Terkini

KPPG Kota Tasikmalaya Dorong Perempuan Melek Politik

Jumat, 19 November 2021 | 14:58 WIB

Melinda Merindukan Dua Adiknya Yang Terpisah Jauh

Minggu, 7 November 2021 | 11:39 WIB

Simak Pesan Ketua DPRD di HUT Pangandaran ke-9

Senin, 25 Oktober 2021 | 11:50 WIB

Dewan Dorong Pemkot Tasikmalaya Optimalisasi PAD

Jumat, 8 Oktober 2021 | 19:57 WIB
X