• Minggu, 28 November 2021

Majelis Taklim Tunanetra Tasikmalaya Trauma Berharap Uluran Pemerintah

- Selasa, 23 November 2021 | 15:18 WIB
Mamat mengisi kesehariannya dengan menjadi pengasuh tadarus online yang digelar Yayasan Louise Braille Indonesia.* (M. Fathan)
Mamat mengisi kesehariannya dengan menjadi pengasuh tadarus online yang digelar Yayasan Louise Braille Indonesia.* (M. Fathan)

TINTAPUTIH - Puluhan penyandang tuna netra yang tergabung dalam majelis taklim Al-Hikmah di Jalan RSU Gang Cintarasa Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya bertekad untuk menghidupkan kembali kegiatan pengajian mereka. Hal itu dilakukan karena hampir sepanjang PPKM, kegiatan itu tidak bisa dilakukan secara tatap muka, sehingga kurang maksimal. Padahal menimba ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap manusia.

Menyadari kewajiban itu, Ketua Majelis Taklim Al Hikmah Tasikmalaya, Mamat Rahmat (57) berencana untuk menggelar pengajian sembari berwisata ke Ampera Water Park Ciawi. Kebetulan, manajemen objek wisata itu memfasilitasi keinginan mereka secara gratis. Ustad Mamat yang selama ini tetap eksis menjadi salah satu pengasuh tadarus bagi tunanetra secara daring karuan senang ada kalangan yang peduli terhadap mereka, di saat perhatian dan dukungan dari sebagian besar pemangku kebijakan cenderung masih setengah hati.

Kiprah Mamat di Majelis Taklim Al Hikmah bukan sekadar mengaji biasa. Selama Ramadan di masa pandemi COVID-19 ia menjadi mentor atau pengasuh tadarus online yang digelar Yayasan Louise Braille Indonesia.

Kegiatan Tadarus yang diasuh Mamat, cukup unik lantaran memanfaatkan platform percakapan WhatApps. Caranya, dengan membuat grup WhatApps, lalu mengaji dengan voice note. Tadarus online diikuti para penyandang tuna netra dari seluruh Provinsi Jawa Barat dan sejumlah provinsi di Indonesia dengan jadwal dan durasi yang disepakati.

"Kita tidak menekankan pada hapalan melainkan fokus pada bagaimana mereka bisa membaca Al-quran secara benar. Apalagi yang diperintahkan dan wajib dilakukan adalah membaca. Jadi sementara ini fokus belajar baca sembari terus memperkaya akan beragam ilmu mulai tata cara salat, adab dalam kehidupan sehari-hari, sejarah Islam dan lainnya," ujar Mamat .

Seharusnya, kata dia, tugas memfasilitasi hal itu jadi perhatian stakeholder terkait mulai Pemerintah Daerah, Kementrian Agama, Majelis Ulama Indonesia, Dinas Sosial dan lainnya.

Hanya, ujar dia, sejauh ini pihak terkait tampaknya belum tergugah untuk menunjukan kepedulian yang maksimal. Pemkot maupun DPRD juga belum pernah melibatkan disabilitas tunanetra dalam Musrenbang di setiap tingkatan, sehingga aspirasi mereka tersumbat.

Trauma Meminta Bantuan Pemerintah

Dirinya juga merasa trauma untuk menyalurkan aspirasi terkait persoalan dan kendala yang dialami penyandang tunanetra. Enam atau lima tahun lalu, dia bermaksud berdiskusi dengan Kementrian Agama untuk meminta arahan dalam pengembangan pengajian di yayasan itu.

Halaman:

Editor: Faizal Amiruddin

Tags

Terkini

Pisang Buah Paling Memasyarakat dan Kaya Manfaat

Sabtu, 20 November 2021 | 11:49 WIB

H. Ijang Faisal Terpilih Jadi Ketua IPHI Jabar

Minggu, 7 November 2021 | 20:41 WIB

Pandemi Reda Braderjon Kembali Berlaga

Selasa, 2 November 2021 | 22:17 WIB

Genjot Percepatan Vaksinasi Anggota Dewan Turun Tangan

Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:01 WIB

Kiprah bank bjb Dukung Kemajuan Ekonomi Pangandaran

Selasa, 26 Oktober 2021 | 20:36 WIB
X