Menilik Catatan Sejarah Stasiun KA Karangpucung Banjar

- Jumat, 24 Desember 2021 | 21:09 WIB
Suasana stasiun Karangpucung di Desa Jajawar Kecamatan/Kota Banjar tampak sepi. (faizal amiruddin)
Suasana stasiun Karangpucung di Desa Jajawar Kecamatan/Kota Banjar tampak sepi. (faizal amiruddin)

TINTAPUTIH - Selain stasiun Kereta Api (KA) Banjar yang terdapat di pusat kota, wilayah Kota Banjar juga memiliki 2 stasiun lainnya yakni stasiun KA Langensari dan stasiun KA Karangpucung. Kedua stasiun tersebut merupakan stasiun kelas 3 atau lebih kecil dari stasiun KA Banjar.

Namun yang memiliki nilai histori yang cukup menarik adalah stasiun KA Karangpucung yang terdapat di Desa Jajawar Kecamatan/Kota Banjar.

Stasiun KA Karangpucung ini memiliki keterkaitan sejarah dengan jembatan KA Cirahong yang terkenal eksotis di Kabupaten Ciamis. Oleh pemerintah kolonial Belanda, stasiun ini dibangun satu paket dengan jembatan Cirahong dan stasiun lainnya di wilayah Kabupaten Ciamis.

Menurut sejumlah literatur, ketika pemerintah kolonial Belanda merencanakan pembangunan sistem transportasi kereta api di pulau Jawa, sebenarnya jembatan Cirahong sampai ke stasiun Karangpucung tidak ada dalam blue print.

Artinya jalur kereta api tak akan melintasi wilayah kota Ciamis. Jadi dari Tasikmalaya ke Manonjaya, Cimaragas lantas ke Banjar. Rencana pembangunan itu cukup beralasan karena membangun jembatan kereta api jelas akan membutuhkan sumber daya yang banyak alias biaya tinggi.

Baca Juga: Shin Tae Yong Tak Berharap Adu Pinalti di Leg Kedua Kontra Singapura Semifinal Piala AFF 2020

Kabar itu rupanya sampai ke telinga R.A.A. Kusumadiningrat, mantan Bupati Ciamis yang saat itu masih bernama Bupati Galuh (1839-1886). Walaupun sudah pensiun, tapi Bupati yang dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu atau Kangjeng Dalem ini masih memiliki pengaruh kuat terhadap kolonial Belanda.

Dia memandang kebijakan pembangunan rel kereta api itu akan merugikan Ciamis. Kangjeng Prabu kemudian melakukan negosiasi kepada pemerintah kolonial Belanda agar jalur kereta api bisa melalui Ciamis.

Banyak alibi yang disampaikannya kepada Belanda termasuk mengenai potensi hasil bumi yang dimiliki Ciamis, seperti kelapa, daun tarum atau nila, lada, kopi, kapas serta lainnya.

Dia juga berusaha meyakinkan pemerintah Belanda bahwa perkembangan wilayah Ciamis akan jauh lebih potensial ketimbang Cimaragas.

Pendapat Kangjeng Prebu itu akhirnya bisa diterima Pemerintah Kolonial Belanda, hingga akhirnya dibangunlah jembatan Cirahong yang tak hanya membuka jalur kereta api namun juga membangun jembatan penghubung transportasi darat.
Selain jembatan Cirahong, perubahan rencana itu juga membawa konsekwensi bagi pemerintah Kolonial Belanda untuk membangun jembatan rel kereta api di Karangpucung Kota Banjar.

Serupa dengan jembatan Cirahong, stasiun KA Karangpucung juga sering dikunjungi oleh komunitas pecinta kereta api atau peneliti sejarah. "Banyak yang datang ke sini untuk sekedar foto-foto atau berbincang mengenai sejarah stasiun ini, termasuk sejumlah turis Belanda," kata Asep, warga setempat.***

Editor: Faizal Amiruddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gabut? Yuk Ikutan Lomba Melamun di GCC Tasikmalaya

Sabtu, 25 Februari 2023 | 19:18 WIB

Daftar 102 Pinjol Legal yang Terdaftar di OJK

Rabu, 1 Februari 2023 | 16:13 WIB

Antusiasme Warga Tasik Ikuti Senam Ridwan Kamil

Minggu, 27 November 2022 | 17:41 WIB

Yogi Muhammad Jadi Doktor Hukum Termuda di Unpad

Sabtu, 26 November 2022 | 07:26 WIB

Cara Hubungkan Rekening dengan E-Walet Pada Prakerja

Sabtu, 3 September 2022 | 05:50 WIB

Doa Terhindar Dari Mimpi Buruk Saat Tidur

Sabtu, 3 September 2022 | 05:45 WIB

Ramalan Zodiak Leo hari ini - Rabu, 31 Agustus 2022

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:22 WIB

Jadwal Samsat Keliling di Kabupaten Pangandaran

Selasa, 30 Agustus 2022 | 11:24 WIB

Terpopuler

X