• Minggu, 28 November 2021

Melihat Bumi Alit yang Menyimpan Sejarah Besar Kerajaan Panjalu Ciamis

- Rabu, 24 November 2021 | 17:07 WIB
Pelataran Bumi Alit Panjalu Kabupaten Ciamis. (Faizal Amiruddin)
Pelataran Bumi Alit Panjalu Kabupaten Ciamis. (Faizal Amiruddin)

TINTAPUTIH - Berwisata ke wilayah Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis tidak hanya sebatas bermain atau berziarah ke area Situ Lengkong saja. Selain itu ada satu lokasi ziarah atau wisata minat khusus yang selama ini kerap didatangi oleh masyarakat dari berbagai pelosok tanah air.

Lokasi ziarah tersebut adalah komplek Bumi Alit yang letaknya tak jauh dari Situ Lengkong atau Alun-alun Kecamatan Panjalu Ciamis. Di Bumi Alit ini terdapat peninggalan kerajaan Panjalu, serupa museum tempat menyimpan benda bersejarah. Bumi Alit dalam Bahasa Sunda berarti rumah kecil.

Di Bumi Alit ini, bisa ditemui pedang pusaka yang konon diberikan Sayyidina Ali kepada Prabu Sanghyang Boros Ngora. Terdapat juga pusaka lain seperti cis, senjata semacam dwisula, keris, kujang, gong kecil, bangreng dan lainnya.

Bangunan Bumi Alit sejak awal memang dibangun untuk menyimpan benda pusaka Sang Hyang Borosngora. Awalnya dibangun oleh Prabu Rahyang Kancana di Dayeuh Nagasari Ciomas Panjalu. Kemudian pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja (akhir abad XVII) bangunan Bumi Alit dipindahkan ke dayeuh (pusat pemerintahan) Panjalu, seiring dengan perpindahan kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit saat ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.

Salah satu penyimpanan benda pusaka di Bumi alit Panjalu Ciamis. (Faizal Amiruddin)

Awalnya Pasucian Bumi Alit berupa taman berlumut yang dibatasi dengan batu-batu besar dan dikelilingi pohon Waregu. Bangunan Bumi Alit sendiri berbentuk mirip leuit atau lumbung padi tradisional masyarakat Sunda. Rangkanya terbuat dari bambu dan kayu berukir dengan dinding terbuat dari bilik bambu. Sedangkan atapnya dari ijuk.

Pada saaat pendudukan Jepang (1942-1945), benda-benda pusaka yang tersimpan di Bumi Alit dipindahkan sementara ke kediaman R. Hanafi Argadipradja, sesepuh keluarga Panjalu, yaitu cucu Raden Demang Aldakusumah di Kebon Alas, Panjalu.

Ketika pecah pemberontakan DI/TII (1949-1962), para pemberontak sempat merampas benda-benda pusaka dari Bumi Alit. Pusaka-pusaka tersebut kemudian ditemukan kembali oleh TNI di Gunung Sawal lalu diserahkan kepada R. Hanafi Argadipradja, kecuali pusaka Cis sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Pada tahun 1955, Bumi Alit dipugar oleh R.H. Sewaka sesepuh Panjalu yang juga mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1948, 1950-1952). Hasil pemugaran menjadikan bentuk bangunan Bumi Alit seperti sekarang, yaitu berbentuk campuran mesjid zaman dahulu dengan bentuk modern, beratap susun tiga. Di pintu masuk terdapat patung ular bermahkota dan di pintu gerbang terdapat patung kepala gajah. Pemeliharaan Bumi Alit dilakukan oleh Pemerintah Desa Panjalu yang terhimpun dalam "Wargi Panjalu".***

Halaman:

Editor: Faizal Amiruddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tiga Hotel di Pangandaran Disanksi Tipiring

Senin, 15 November 2021 | 17:54 WIB

Prokes Semakin Kendor Bupati Ancam Tutup Objek Wisata

Jumat, 5 November 2021 | 17:21 WIB

Asosiasi Manager Hotel di Pangandaran Dikukuhkan

Kamis, 4 November 2021 | 21:07 WIB

Evaluasi Sistem Keselamatan Pantai Karapyak Ditutup

Senin, 1 November 2021 | 16:49 WIB

Geliat Pariwisata Pangandaran di Hari Kerja Lesu

Senin, 11 Oktober 2021 | 18:15 WIB

Sejumlah Ruas Jalan di Pantai Pangandaran Rusak

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:44 WIB

Ada Fasilitas Wisata Baru di Pantai Pangandaran

Jumat, 8 Oktober 2021 | 10:14 WIB

4 Ruang Publik di Ciamis yang Nyaman Disinggahi

Kamis, 23 September 2021 | 17:20 WIB

Target Vaksinasi Tercapai Pantai Batukaras Dibuka Lagi

Minggu, 19 September 2021 | 16:07 WIB
X